Ayam Goreng - By Ghifarah Sabira Putri Fitrianto
Written By: Ghifarah Sabira Putri Fitrianto
Category: Narrative Poetry
Competition: Global Poetry and Creative Writing Competition 2026
Step into a world of introspection with "Ayam Goreng," a narrative poem by Ghifarah Sabira Putri Fitrianto, also known as Ayam Goreng. As a participant in the Global Poetry and Creative Writing Competition 2026, Ghifarah explores profound themes of existence and identity. Her work invites readers to journey through the complexities of life and death, offering a moment of reflection and deeper understanding.
About the Work
"Ayam Goreng" unfolds as a deeply reflective poem, rich with imagery and emotion. Ghifarah Sabira Putri Fitrianto crafts a narrative that explores the relationship with mortality, personifying death as a familiar presence. The poem skillfully juxtaposes themes of fear and acceptance, weaving a tapestry of thoughts and feelings that resonate with the reader. The use of vivid imagery and conversational tone invites introspection, leaving a lasting impact.
Ayam Goreng
Original Submission by Ghifarah Sabira Putri Fitrianto
Ayam Goreng
Oleh: Ghifarah Sabira Putri Fitrianto
Jalanan yang kosong
Dengan lampu-lampu remang
Ku berjalan tanpa bekal di kantong
Ku berjalan melawan arah bayangan
Halte bis yang sepi
Dengan lalu lintas yang sunyi
Ku duduk di bangku plastik berdecit
Menunggu teman, yang mungkin datang dari langit
Nampak di sisi bangku, seekor kumbang terlentang
Satu dua detik, ia membeku dan tak bergerak lagi
Mungkin Ajal sudah menjemputnya
Ah, Ajal
Lama sekali kau baru datang
Aku menunggumu sedari tadi, tahu
Apa kabar? Bagaimana pekerjaanmu?
Kau tahu, Ajal
Aku heran mengapa orang-orang takut akanmu
Wujudmu digambarkan sebagai sosok yang gelap
Dengan muka pucat, membawa kapak atau sebagainya
Mendatangkan keburukan, kesedihan, dan yang paling mereka takutkan
Duka, duka, dan duka
Tapi Ajal, aku tak melihatmu seperti itu
Kuanggap kau sebagai sahabat jauh
Yang terlihat samar-samar tersenyum
Kuanggap kau seakan seorang kekasih
Yang hanya bisa memberi janji
Akan menjemputku di tepi rel kereta api
Oh, Ajal
Aku ingin menyambutmu dengan tangan terbuka
Seperti seorang tamu yang disambut dikala lebaran
Aku ingin memelukmu dengan erat
Sebagaimana aku memeluk ibu, bapak, dan adik-adikku
Aku ingin mengecup keningmu
Mencium mulutmu
Dan membiarkanmu melakukan hal yang sama
Hingga bibirku kering, dan kata serta metafora binasa di lidah
Mengapa kau begitu sabar menunggu waktuku, wahai Ajal?
Aku sudah begitu rindu ingin bertemu
Bawa aku jauh, bawa aku ke tempat bermainmu
Biarkan aku tertawa dan menari lepas
Bersama mayat-mayat dan bangkai yang kau kumpulkan
Kuanggap jubah hitam mu itu selimut yang hangat
Kuanggap duri-durimu itu sayap lebar yang kelak melindungiku
Dari fitnah dunia
Dan segala tetek bengek janji palsu yang diberinya
Bawa aku jauh, wahai Ajal!
Mengapa aku harus menunggu?
Menunggumu menjemput, menunggumu bertamu?
…kau tahu, wahai Ajal
Mengapa tidak aku yang menghampirimu?
Ya, betul sekali! Mengapa tidak aku yang bertamu di rumahmu?
Berlari dengan tangan terbuka,
Dan datang dengan bersuka cita!
Ya, tunggu saja kau Ajal!
Akan kudatangi kau, tepat di malam ini yang asri
Tunggu, tunggu aku!
Kubangkit dari bangku plastik yang berdecit
Berdiri di tengah aspal panjang yang melebar
Menunggu pintu masukku ke depan rumahmu
Hujan turun
Ku mendongak, membiarkan rintik-rintik itu menghiasi wajahku
Oh, Ajal… aku begitu rindu
Tak sabar aku ingin bertemu
Sepasang lampu mobil nampak dari kejauhan
Apakah kau tak sabar bertemu denganku?
Semakin mendekat, membelah tirai gerimis malam
Aku penasaran, bagaimana rupamu nanti
Mobil itu melaju dengan kencang
Ah, harusnya aku bawa oleh-oleh
Tinggal beberapa meter dari kaki-kakiku
Apa yang seharusnya aku bawa, wahai Ajal?
Dan kemudian aku teringat akan ayam goreng
Rupanya perutku lapar
Aku teringat akan ayam goreng masakan ibuku
Dan ayam goreng langganan depan rumah
Oh iya, rumah
Bagaimana kabar keluargaku di rumah?
Apa mereka masih mengkhawatirkanku di sekolah?
Oh iya, sekolah
Bagaimana kabar teman-temanku di sekolah?
Apa guruku masih marah padaku karena lupa mengumpulkan PR?
Oh iya, PR
Sudah lama sekali aku tidak belajar
Kemana saja aku selama ini?
Kemana saja aku selama ini?
Berjalan-jalan dipinggir komplek
Melamun di depan gerobak bakso
Menonton matahari tenggelam atap rumah
…aku rindu
Sebentar, ada apa gerangan?
Ajal, apa kau disana?
Mengapa suaramu samar nan jauh?
Apa? Apa katamu?
Apa maksudmu aku belum siap?
Jawab aku, wahai Ajal!
Lalu kakiku membawaku menghindar dari tabrakan mobil di depan
Hening
Hening yang membingungkan
Sang supir meneriakku dengan marah, menyuruhku melihat jalan dengan benar
Aku meminta maaf, lalu dia pergi menembus malam
…Ajal?
Apa kau masih disana?
Kau tidak ingin bertemu denganku, ya?
Tapi, kutatap kaki-kakiku
Ini kakiku, aku yang menggerakan
Wahai, Ajal
Apa ini artinya aku belum siap?
Kupandang lagi rintik hujan yang jatuh dari langit
Kupandang lagi tiap bulir air yang jatuh dengan berisik
Kupandang lagi kumbang yang mati di pojokan halte bis
Ah, betapa naif
Betapa ceroboh dan non-etis
Bahkan langit tak pernah memaksa awan untuk segera menumpahkan isinya
Bahkan pohon-pohon dipinggir jalan tak pernah marah tempatnya diambil aspal
Bahkan sang kumbang tak pernah berharap akan dipanggil duluan
Betapa bodoh, betapa bodoh
Maafkan aku, wahai Ajal
Rindu ini harusnya aku simpan
Aku siapkan dengan persiapan matang
Hingga akhirnya kau datang di depan teras rumah
Maafkan aku, wahai Ajal
Terima kasih, akan percakapannya hari ini
Kutunggu kau dilain hari
Jangan khawatir, kali ini aku akan lebih sabar menanti
Ternyata, aku hanya ingin sakit ini berhenti
Bukannya ingin menyerah dan tak kembali lagi
Sekarang, biarkan aku berdamai
Berjabat tangan dan berkenalan ulang
Dengan temanmu yang selama ini begitu dekat
Belahan pinang Kematian,
Kehidupan.
About the Competition
The Global Poetry and Creative Writing Competition 2026 by Hashtag Kalakar celebrates the power of words and creativity. It is a platform for writers and poets worldwide to share their unique voices and stories. With a focus on diverse themes and innovative expression, the competition seeks to connect participants with a global audience, fostering a vibrant literary community.
We extend our heartfelt thanks to Ghifarah Sabira Putri Fitrianto for sharing "Ayam Goreng" with us in the Global Poetry and Creative Writing Competition 2026. Her narrative poem invites readers to explore deep emotional landscapes, offering a poignant reflection on life's journey. We appreciate her contribution and look forward to more of her thought-provoking work.
About Hashtag Kalakar
Hashtag Kalakar is a creative platform dedicated to providing artists, writers, singers and other creative talents with opportunities to showcase their work and reach wider audiences through competitions, features and creative initiatives.

Comments