top of page

Ayam Goreng - By Ghifarah Sabira Putri Fitrianto

20 hours ago
4 min read

Written By: Ghifarah Sabira Putri Fitrianto

Category: Narrative Poetry

Competition: Global Poetry and Creative Writing Competition 2026

Step into a world of introspection with "Ayam Goreng," a narrative poem by Ghifarah Sabira Putri Fitrianto, also known as Ayam Goreng. As a participant in the Global Poetry and Creative Writing Competition 2026, Ghifarah explores profound themes of existence and identity. Her work invites readers to journey through the complexities of life and death, offering a moment of reflection and deeper understanding.

About the Work

"Ayam Goreng" unfolds as a deeply reflective poem, rich with imagery and emotion. Ghifarah Sabira Putri Fitrianto crafts a narrative that explores the relationship with mortality, personifying death as a familiar presence. The poem skillfully juxtaposes themes of fear and acceptance, weaving a tapestry of thoughts and feelings that resonate with the reader. The use of vivid imagery and conversational tone invites introspection, leaving a lasting impact.

Ayam Goreng

Original Submission by Ghifarah Sabira Putri Fitrianto

Ayam Goreng

Oleh: Ghifarah Sabira Putri Fitrianto

Jalanan yang kosong

Dengan lampu-lampu remang

Ku berjalan tanpa bekal di kantong

Ku berjalan melawan arah bayangan

Halte bis yang sepi

Dengan lalu lintas yang sunyi

Ku duduk di bangku plastik berdecit

Menunggu teman, yang mungkin datang dari langit

Nampak di sisi bangku, seekor kumbang terlentang

Satu dua detik, ia membeku dan tak bergerak lagi

Mungkin Ajal sudah menjemputnya

Ah, Ajal

Lama sekali kau baru datang

Aku menunggumu sedari tadi, tahu

Apa kabar? Bagaimana pekerjaanmu?

Kau tahu, Ajal

Aku heran mengapa orang-orang takut akanmu

Wujudmu digambarkan sebagai sosok yang gelap

Dengan muka pucat, membawa kapak atau sebagainya

Mendatangkan keburukan, kesedihan, dan yang paling mereka takutkan

Duka, duka, dan duka

Tapi Ajal, aku tak melihatmu seperti itu

Kuanggap kau sebagai sahabat jauh

Yang terlihat samar-samar tersenyum

Kuanggap kau seakan seorang kekasih

Yang hanya bisa memberi janji

Akan menjemputku di tepi rel kereta api

Oh, Ajal

Aku ingin menyambutmu dengan tangan terbuka

Seperti seorang tamu yang disambut dikala lebaran

Aku ingin memelukmu dengan erat

Sebagaimana aku memeluk ibu, bapak, dan adik-adikku

Aku ingin mengecup keningmu

Mencium mulutmu

Dan membiarkanmu melakukan hal yang sama

Hingga bibirku kering, dan kata serta metafora binasa di lidah

Mengapa kau begitu sabar menunggu waktuku, wahai Ajal?

Aku sudah begitu rindu ingin bertemu

Bawa aku jauh, bawa aku ke tempat bermainmu

Biarkan aku tertawa dan menari lepas

Bersama mayat-mayat dan bangkai yang kau kumpulkan

Kuanggap jubah hitam mu itu selimut yang hangat

Kuanggap duri-durimu itu sayap lebar yang kelak melindungiku

Dari fitnah dunia

Dan segala tetek bengek janji palsu yang diberinya

Bawa aku jauh, wahai Ajal!

Mengapa aku harus menunggu?

Menunggumu menjemput, menunggumu bertamu?

…kau tahu, wahai Ajal

Mengapa tidak aku yang menghampirimu?

Ya, betul sekali! Mengapa tidak aku yang bertamu di rumahmu?

Berlari dengan tangan terbuka,

Dan datang dengan bersuka cita!

Ya, tunggu saja kau Ajal!

Akan kudatangi kau, tepat di malam ini yang asri

Tunggu, tunggu aku!

Kubangkit dari bangku plastik yang berdecit

Berdiri di tengah aspal panjang yang melebar

Menunggu pintu masukku ke depan rumahmu

Hujan turun

Ku mendongak, membiarkan rintik-rintik itu menghiasi wajahku

Oh, Ajal… aku begitu rindu

Tak sabar aku ingin bertemu

Sepasang lampu mobil nampak dari kejauhan

Apakah kau tak sabar bertemu denganku?

Semakin mendekat, membelah tirai gerimis malam

Aku penasaran, bagaimana rupamu nanti

Mobil itu melaju dengan kencang

Ah, harusnya aku bawa oleh-oleh

Tinggal beberapa meter dari kaki-kakiku

Apa yang seharusnya aku bawa, wahai Ajal?

Dan kemudian aku teringat akan ayam goreng

Rupanya perutku lapar

Aku teringat akan ayam goreng masakan ibuku

Dan ayam goreng langganan depan rumah

Oh iya, rumah

Bagaimana kabar keluargaku di rumah?

Apa mereka masih mengkhawatirkanku di sekolah?

Oh iya, sekolah

Bagaimana kabar teman-temanku di sekolah?

Apa guruku masih marah padaku karena lupa mengumpulkan PR?

Oh iya, PR

Sudah lama sekali aku tidak belajar

Kemana saja aku selama ini?

Kemana saja aku selama ini?

Berjalan-jalan dipinggir komplek

Melamun di depan gerobak bakso

Menonton matahari tenggelam atap rumah

…aku rindu

Sebentar, ada apa gerangan?

Ajal, apa kau disana?

Mengapa suaramu samar nan jauh?

Apa? Apa katamu?

Apa maksudmu aku belum siap?

Jawab aku, wahai Ajal!

Lalu kakiku membawaku menghindar dari tabrakan mobil di depan

Hening

Hening yang membingungkan

Sang supir meneriakku dengan marah, menyuruhku melihat jalan dengan benar

Aku meminta maaf, lalu dia pergi menembus malam

…Ajal?

Apa kau masih disana?

Kau tidak ingin bertemu denganku, ya?

Tapi, kutatap kaki-kakiku

Ini kakiku, aku yang menggerakan

Wahai, Ajal

Apa ini artinya aku belum siap?

Kupandang lagi rintik hujan yang jatuh dari langit

Kupandang lagi tiap bulir air yang jatuh dengan berisik

Kupandang lagi kumbang yang mati di pojokan halte bis

Ah, betapa naif

Betapa ceroboh dan non-etis

Bahkan langit tak pernah memaksa awan untuk segera menumpahkan isinya

Bahkan pohon-pohon dipinggir jalan tak pernah marah tempatnya diambil aspal

Bahkan sang kumbang tak pernah berharap akan dipanggil duluan

Betapa bodoh, betapa bodoh

Maafkan aku, wahai Ajal

Rindu ini harusnya aku simpan

Aku siapkan dengan persiapan matang

Hingga akhirnya kau datang di depan teras rumah

Maafkan aku, wahai Ajal

Terima kasih, akan percakapannya hari ini

Kutunggu kau dilain hari

Jangan khawatir, kali ini aku akan lebih sabar menanti

Ternyata, aku hanya ingin sakit ini berhenti

Bukannya ingin menyerah dan tak kembali lagi

Sekarang, biarkan aku berdamai

Berjabat tangan dan berkenalan ulang

Dengan temanmu yang selama ini begitu dekat

Belahan pinang Kematian,

Kehidupan.

About the Competition

The Global Poetry and Creative Writing Competition 2026 by Hashtag Kalakar celebrates the power of words and creativity. It is a platform for writers and poets worldwide to share their unique voices and stories. With a focus on diverse themes and innovative expression, the competition seeks to connect participants with a global audience, fostering a vibrant literary community.

We extend our heartfelt thanks to Ghifarah Sabira Putri Fitrianto for sharing "Ayam Goreng" with us in the Global Poetry and Creative Writing Competition 2026. Her narrative poem invites readers to explore deep emotional landscapes, offering a poignant reflection on life's journey. We appreciate her contribution and look forward to more of her thought-provoking work.

About Hashtag Kalakar

Hashtag Kalakar is a creative platform dedicated to providing artists, writers, singers and other creative talents with opportunities to showcase their work and reach wider audiences through competitions, features and creative initiatives.

 
 
 

Recent Posts

See All
Horizon - By Ruby-Rose

Written By: Ruby-Rose Category: Poetry Competition: Global Poetry and Creative Writing Competition 2026 We are delighted to feature "Horizon," a thought-provoking poem by Ruby-Rose, writing under the

 
 
 
Star Link - By Ruby-Rose

Written By: Ruby-Rose Category: Poetry Competition: Global Poetry and Creative Writing Competition 2026 Presenting "Star Link" by Ruby-Rose, showcased under the writing name Star Link. This evocative

 
 
 

Comments

Rated 0 out of 5 stars.
No ratings yet

Add a rating
bottom of page